← Kembali ke Info CORZ
Hasil Studi CORZ

(2021) Pemodelan Prediksi Kecepatan dan Arah Arus di Perairan Utara Tangerang

CORZ Indonesia | Research & Studies Ketika Bukti Bergerak Bersama Laut, Pencarian Juga Harus Memahami Laut Dalam kecelakaan yang terjadi di laut, lokasi kejadian adalah titik awal. Bukan selalu titik akhir pencarian. Serpihan dapat terapung. Material ringan dapat berpindah. Bend…

CORZ Indonesia | Research & Studies

Ketika Bukti Bergerak Bersama Laut, Pencarian Juga Harus Memahami Laut

Lihat beberapa hasil luaran model lainnya di Youtube @CORZIndonesia

Dalam kecelakaan yang terjadi di laut, lokasi kejadian adalah titik awal.

Bukan selalu titik akhir pencarian.

Serpihan dapat terapung.

Material ringan dapat berpindah.

Benda pada permukaan atau kolom air dapat terbawa oleh arus.

Dan dari satu jam ke jam berikutnya, laut terus bergerak.

Karena itu, ketika sebuah pesawat jatuh ke laut, pertanyaan pencarian tidak hanya:

“Di mana pesawat terakhir diketahui berada?”

Tetapi juga:

Bagaimana arus bergerak setelah kejadian?
Ke arah mana material yang terapung berpotensi terbawa?
Seberapa cepat perpindahan tersebut dapat berlangsung?
Bagaimana medan arus berubah beberapa jam atau beberapa hari kemudian?
Dan bagaimana informasi tersebut dapat membantu interpretasi area pencarian?

Pada tahun 2021, CORZ Indonesia melakukan Research & Studies melalui:

Pemodelan Prediksi Kecepatan dan Arah Arus untuk Mendukung Pencarian Jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air SJ-182 di Perairan Utara Jakarta dan Sekitarnya.

Studi ini membawa pemodelan numerik laut menuju aplikasi yang sangat sensitif terhadap waktu:

MARITIME SEARCH & RECOVERY SUPPORT.

9 Januari 2021: SJ-182 Jatuh ke Laut Jawa

Pada 9 Januari 2021, pesawat Sriwijaya Air SJ-182, Boeing 737-500 dengan rute Jakarta–Pontianak, jatuh ke laut beberapa menit setelah lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta.

Reuters melaporkan pesawat membawa 62 orang, termasuk awak, dan tim penyelamat segera dikerahkan ke kawasan sekitar Pulau Laki setelah ditemukan material yang diduga berasal dari pesawat.

Reuters — Indonesian plane crashes after take-off with 62 aboard

Sehari kemudian, tim SAR mengonfirmasi lokasi kecelakaan di kawasan Kepulauan Seribu dan mulai mengumpulkan bagian-bagian pesawat. ANTARA melaporkan serpihan berukuran besar ditemukan sekitar 1,6 mil dari Pulau Lancang.

ANTARA — Tim SAR menemukan serpihan Sriwijaya Air SJ-182

Pada saat itu sebuah pertanyaan oseanografi menjadi sangat relevan:

Where is the water carrying the evidence?

Aktivitas Riset CORZ: Memprediksi Arus, Bukan Menebak Perpindahan

CORZ memodelkan kecepatan dan arah arus secara prediktif.

Model tidak hanya menghasilkan satu peta arus.

Ia memberikan rangkaian kondisi:

CURRENT FIELD t₀
→
CURRENT FIELD t₁
→
CURRENT FIELD t₂
→
CURRENT FIELD t₃
→
CURRENT FIELD tₙ

Artinya, model dapat menunjukkan bagaimana medan arus berkembang terhadap waktu.

Setiap vektor membawa:

DIRECTION × VELOCITY × LOCATION × TIME

Sehingga keluaran utama studi dapat dipahami sebagai:

TIME-EVOLVING CURRENT INFORMATION.

Alurnya:

BATHYMETRY & OCEANOGRAPHIC DATA
↓
BOUNDARY / TIDAL / METEOROLOGICAL FORCING
↓
HYDRODYNAMIC MODEL
↓
CURRENT SPEED & DIRECTION
↓
PREDICTED CURRENT FIELD
↓

SEARCH-AREA INTERPRETATION SUPPORT

BMKG Juga Menggunakan Informasi Arus untuk Mendukung Operasi SJ-182

Pentingnya informasi arus dalam operasi nyata terlihat secara langsung.

Pada 10 Januari 2021, BMKG mengeluarkan prakiraan khusus untuk mendukung pencarian dan pertolongan SJ-182.

Selain cuaca dan tinggi gelombang, BMKG memberikan:

ARAH DAN KECEPATAN ARUS PERMUKAAN.

Untuk 10–12 Januari 2021, prakiraan BMKG menunjukkan arus permukaan bergerak pada sektor timur laut hingga tenggara dengan kecepatan sekitar 5–20 cm/s.

BMKG — Prakiraan cuaca, gelombang, dan arus untuk operasi pencarian SJ-182

BMKG juga mengoperasikan Weather Emergency Service, AWS, citra satelit, radar cuaca, serta Ocean Forecast System di Posko SAR.

Hal ini memberikan konteks independen yang sangat kuat:

current prediction is not merely an academic product—it can become operational information during a marine emergency.

Angka BMKG tersebut bukan hasil model CORZ dan tidak digunakan sebagai klaim validasi kuantitatif model CORZ.

Namun keduanya bekerja atas prinsip fisik yang sama:

untuk memahami perpindahan di laut, kita perlu mengetahui ke mana air bergerak.

Dari Lokasi Jatuh menuju Drift

Untuk objek yang dapat terbawa air, posisi berubah terhadap waktu.

Secara konseptual:

INITIAL LOCATION

↓

CURRENT + WIND + TIME

↓

DRIFT

↓

POSSIBLE NEW LOCATION

Jika sebuah serpihan ditemukan pada waktu tertentu, pertanyaan dapat dibalik:

FOUND HERE AT t₁

↓

WHAT CURRENTS OCCURRED BEFORE t₁?

↓

WHERE COULD IT HAVE COME FROM?

Pendekatan pertama disebut forward drift.

Pendekatan kedua secara konseptual dapat digunakan sebagai backtracking.

Keduanya membutuhkan informasi arus yang berkembang terhadap waktu.

Distance Is Not Drift

Salah satu kekeliruan sederhana dalam pencarian di laut adalah membayangkan material hanya bergerak berdasarkan jarak dari lokasi kejadian.

Laut tidak bekerja seperti itu.

Material mengikuti kombinasi:

CURRENT DIRECTION

CURRENT VELOCITY

WINDAGE

OBJECT CHARACTERISTICS

TIME

Sehingga:

STRAIGHT-LINE DISTANCE ≠ DRIFT PATH.

Dua benda yang dilepaskan dari lokasi yang sama bahkan dapat bergerak berbeda apabila karakteristik terapungnya berbeda.

Karena itu, model arus menyediakan physical transport framework, bukan sekadar radius pencarian.

Mengapa “Perairan Utara Tangerang” Relevan?

Lokasi utama kecelakaan berada di kawasan Kepulauan Seribu, di sekitar Pulau Laki dan Pulau Lancang.

Namun dimensi pencarian tidak sepenuhnya terpisah dari pesisir Tangerang.

ANTARA pada 10 Januari 2021 melaporkan bahwa nelayan Tanjung Kait, Kabupaten Tangerang, turut membantu mencari serpihan SJ-182 di sekitar Pulau Laki.

ANTARA — Nelayan Tangerang ikut mencari serpihan Sriwijaya Air

Pada 21 Januari, detikNews juga melaporkan temuan bagian tubuh yang diduga berkaitan dengan korban SJ-182 di Pantai Kiss, Pakuhaji, Kabupaten Tangerang; kepolisian saat itu menyebut kedekatan geografis kawasan tersebut dengan Pulau Lancang sebagai salah satu pertimbangannya.

detikNews — Temuan diduga korban SJ-182 di pesisir Tangerang

Peristiwa tersebut tidak digunakan sebagai bukti bahwa model CORZ memprediksi lokasi temuan tersebut.

Namun ia menunjukkan mengapa domain hidrodinamika yang mencakup perairan sekitar Tangerang–Jakarta–Kepulauan Seribu dapat memiliki relevansi bagi analisis drift regional.

Arus Bukan Sekadar Parameter Tambahan—Arus Menjadi Kendala Operasional Nyata

Pada hari kesembilan operasi, ANTARA melaporkan penyelaman terganggu oleh arus bawah laut yang deras dan jarak pandang rendah.

ANTARA — Pencarian SJ-182 terkendala arus dan jarak pandang

Dua hari kemudian, Basarnas bahkan melaporkan sebuah kapal Basarnas dan kapal Kementerian Perhubungan berbenturan dalam operasi SAR; salah satu faktor yang disebut adalah arus yang kuat, bersamaan dengan kondisi cuaca buruk.

ANTARA — Arus kuat menjadi salah satu kendala operasi kapal SAR SJ-182

Jadi informasi arus mempunyai dua kegunaan sekaligus:

SEARCH INFORMATION

dan:

SEARCH-OPERATION ENVIRONMENT.

Model Arus Dapat Membantu Apa?

Dalam konteks kecelakaan pesawat di laut, model hidrodinamika dapat membantu analisis terhadap:

  • floating aircraft debris
    • personal belongings
    • floating emergency equipment
    • oil or fuel sheen
    • other buoyant material
    • movement of material within the water column

Model dapat membantu pertanyaan:

Ke arah mana material mungkin bergerak?

Bagaimana arah tersebut berubah dalam beberapa jam?

Di kawasan mana operasi permukaan perlu memperhatikan drift?

Bagaimana lokasi temuan baru dapat dibandingkan dengan medan arus?

Tetapi:

model arus tidak secara langsung “melihat” bangkai pesawat di dasar laut.

Untuk itu diperlukan teknologi lain.

Hydrodynamics Supports the Search. Sonar Finds the Seabed Target.

Pembedaan ini sangat penting.

HYDRODYNAMIC MODEL

memberikan:

MOVING-WATER INFORMATION.

Sedangkan pencarian objek di dasar laut menggunakan teknologi seperti:

SONAR

MULTIBEAM ECHOSOUNDER

SIDE-SCAN SONAR

PINGER LOCATOR

ROV

UNDERWATER DIVERS

dan perangkat survei lainnya.

Operasi SJ-182 memang menggunakan kombinasi teknologi dan tenaga dalam jumlah besar. The Jakarta Post melaporkan sekitar 3.600 personel, puluhan kapal, helikopter, dan penyelam terlibat dalam operasi pada fase awal.

The Jakarta Post — Navy divers continue hunting for Sriwijaya Air's black boxes

Ini bukan pekerjaan satu teknologi.

Ini adalah:

MULTI-SENSOR + MULTI-DATA + MULTI-AGENCY SEARCH.

Dari Area Luas menuju Area yang Semakin Terarah

Pada awal operasi, pencarian mencakup kawasan relatif luas.

Pada 15 Januari, Basarnas memperluas pencarian udara menjadi tiga sektor dengan total sekitar 222 nautical square miles.

Beberapa hari kemudian, ketika semakin banyak objek ditemukan, area pencarian bawah air dapat dipersempit. ANTARA melaporkan tim SAR kemudian mempersempit cakupan pencarian untuk korban, puing, dan cockpit voice recorder.

Ini menunjukkan prinsip penting:

INITIAL INFORMATION
↓
SEARCH
↓
NEW FINDINGS
↓
UPDATED SEARCH AREA
↓
MORE DATA
↓

NARROWER SEARCH AREA

Prediksi arus dapat menjadi salah satu information layer dalam proses dinamis tersebut.

Black Box dan Puing: Ketika Teknologi Bawah Laut Mengambil Alih

Pada 12 Januari 2021, penyelam TNI AL berhasil mengangkat Flight Data Recorder dari dasar laut pada kedalaman sekitar 23 meter.

ANTARA — Penyelam TNI AL menemukan Flight Data Recorder SJ-182

Reuters juga melaporkan penggunaan kendaraan bawah laut remote-controlled dalam operasi tersebut.

Di sinilah pembagian peran menjadi jelas:

CURRENT MODEL
→ membantu memahami lingkungan dan transportasi material;

UNDERWATER SEARCH SYSTEM
→ membantu mendeteksi dan mengambil target dasar laut.

Both are useful. They answer different questions.

Cuaca dan Gelombang Mengubah Kondisi Pencarian dari Hari ke Hari

Pencarian di laut tidak berlangsung dalam lingkungan yang konstan.

Pada 13 Januari, Reuters melaporkan penyelaman pencarian CVR terpaksa dihentikan sementara karena cuaca buruk menghasilkan gelombang hingga sekitar 2,5 meter.

BMKG juga telah memperingatkan bahwa angin dan gelombang tinggi dapat mengganggu pencarian dan evakuasi.

Ini berarti search environment terdiri dari:

CURRENT + WAVE + WIND + VISIBILITY + WEATHER.

Model arus adalah salah satu bagian penting dari sistem informasi itu.

Dari Current Field menuju Search Intelligence

Prediksi arus menjadi jauh lebih bernilai ketika digabungkan dengan informasi lainnya.

LAST KNOWN / CRASH LOCATION

CURRENT FIELD

WIND

DEBRIS OBSERVATION

BATHYMETRY

SONAR CONTACT

DIVER / ROV INFORMATION

↓

SEARCH INTELLIGENCE.

Tujuannya bukan agar satu model mengambil alih seluruh keputusan.

Tujuannya adalah:

REDUCE UNCERTAINTY.

Model → Observe → Update → Search

Ini merupakan prinsip yang sangat penting untuk operasi respons cepat.

Model membuat prediksi awal.

Kemudian lapangan memberikan observasi.

Jika ditemukan serpihan di lokasi baru:

UPDATE.

Jika cuaca berubah:

UPDATE.

Jika arus berubah:

UPDATE.

Jika sonar menemukan kontak baru:

UPDATE.

Sehingga prosesnya menjadi:

MODEL
↓
OBSERVE
↓
COMPARE
↓
UPDATE
↓
SEARCH AGAIN

Inilah perbedaan antara model statis dengan:

OPERATIONAL OCEAN MODELLING.

Dari Coastal Modelling menuju Emergency Modelling

Studi SJ-182 menunjukkan bahwa kemampuan hydrodynamic modelling CORZ tidak terbatas pada:

pelabuhan • sedimentasi • reklamasi • pencemaran • thermal discharge.

Fisika laut yang sama dapat diterapkan untuk:

  • Maritime Search & Rescue
    • Aircraft Accident Search Support
    • Drift Prediction
    • Debris Tracking
    • Oil/Fuel Slick Tracking
    • Emergency Survey Planning
    • Search-Area Interpretation
    • Marine Incident Reconstruction

Karena semua pertanyaan tersebut memiliki fondasi yang sama:

the ocean moves.

Predict the Current. Follow the Evidence. Reduce the Search Uncertainty.

Dalam kecelakaan laut, bukti tidak selalu menunggu di lokasi yang sama.

Laut dapat memindahkannya.

Maka informasi tentang kecepatan dan arah arus menjadi salah satu elemen yang membantu menghubungkan:

where the accident happened

dengan:

where evidence may later be found.

Studi SJ-182 tahun 2021 merepresentasikan pendekatan Research & Studies CORZ Indonesia:

Start from the Incident Location.
Predict the Currents.
Follow the Time Evolution.
Understand the Drift.
Compare with Field Observations.
Update the Search Interpretation.
Reduce the Uncertainty.
Support Better Emergency Decisions.

Karena dalam pencarian di laut, pertanyaan yang paling berguna bukan hanya:

“Where did it fall?”

tetapi juga:

“Where could the moving ocean carry the evidence next?”

CORZ Indonesia for Research & Studies

Predictive Current Modelling • Hydrodynamic Modelling • Maritime Search & Recovery Support • Drift Prediction • Debris Tracking • Marine Emergency Modelling

Coastal-Ocean Research Zone (CORZ) Indonesia provides research, modelling, analysis, and technical solutions for coastal and ocean environments.

YouTube — CORZ Indonesia
Website — CORZ Indonesia
Email: info@corz.co.id

© 2026 CORZ Indonesia. All Rights Reserved.

VIDEO

Tonton dari CORZ

Nilai bagi Pengambil Keputusan

Punya kebutuhan proyek pesisir atau laut?

Sampaikan lokasi, tujuan, tantangan utama, ketersediaan data, dan keluaran yang diharapkan. Tim CORZ akan membantu menyusun pendekatan teknis yang proporsional.

Kirim Ringkasan Proyek