← Kembali ke Info CORZ
Hasil Studi CORZ

(2021) Pemodelan Hidrodinamika Sirkulasi Arus di Perairan Labuan Bajo dan Rokatenda

CORZ Indonesia | Research & Studies Sebelum Sensor Tsunami Mengawasi Laut, Kita Harus Memahami Laut Tempat Sensor Itu Dipasang Sistem peringatan dini tsunami sering dibayangkan sebagai sebuah sensor yang menunggu perubahan tekanan di dasar laut. Namun sebelum sebuah sensor dapat…

CORZ Indonesia | Research & Studies

Sebelum Sensor Tsunami Mengawasi Laut, Kita Harus Memahami Laut Tempat Sensor Itu Dipasang

Lihat beberapa hasil luaran model lainnya di Youtube @CORZIndonesia

Sistem peringatan dini tsunami sering dibayangkan sebagai sebuah sensor yang menunggu perubahan tekanan di dasar laut.

Namun sebelum sebuah sensor dapat bekerja jauh di bawah permukaan, ada tantangan yang lebih mendasar:

Bagaimana kondisi laut tempat sistem itu akan dipasang?

Bagaimana arus bergerak?

Bagaimana karakter sirkulasi berubah terhadap ruang dan waktu?

Bagaimana kondisi laut di antara perairan pantai dan laut dalam?

Dan bagaimana informasi oseanografi tersebut dapat mendukung pemasangan infrastruktur kabel dan perangkat observasi di dasar laut?

Pada tahun 2021, CORZ Indonesia melakukan Research & Studies melalui:

  • Pemodelan Hidrodinamika Sirkulasi Arus untuk Mendukung Pemasangan InaCBT Tsunami Warning di Labuan Bajo
  • Pemodelan Hidrodinamika Sirkulasi Arus untuk Mendukung Pemasangan InaCBT Tsunami Warning di Rokatenda

Dua lokasi.

Dua lingkungan laut.

Satu tujuan besar:

memperkuat kemampuan Indonesia mengamati tanda-tanda tsunami dari dasar laut.

InaCBT: Membawa Sensor Tsunami ke Dasar Laut

InaCBT—Indonesia Cable-Based Tsunameter— merupakan teknologi pemantauan tsunami berbasis kabel bawah laut.

Konsepnya menghubungkan sensor yang ditempatkan di dasar laut dengan stasiun di darat menggunakan kabel serat optik.

ANTARA pada November 2021 melaporkan bahwa sistem ini direncanakan dipasang di Labuan Bajo dan Rokatenda, dengan sensor pada kedalaman sekitar 2.000 hingga 4.000 meter untuk konfigurasi Labuan Bajo yang direncanakan saat itu. Sistem dirancang untuk mengirimkan data secara cepat ke daratan agar dapat mendukung sistem peringatan dini tsunami Indonesia.

ANTARA — BRIN segera pasang InaCBT di Labuan Bajo dan Rokatenda, 5 November 2021

Prinsip sederhananya:

SEAFLOOR DISTURBANCE
↓
PRESSURE CHANGE AT THE SEABED
↓
BOTTOM SENSOR
↓
FIBER-OPTIC CABLE
↓
LAND-BASED STATION
↓
DATA CENTRE
↓

TSUNAMI EARLY-WARNING INFORMATION

Jadi InaCBT bukan sekadar kabel.

Ia adalah bagian dari rantai:

OCEAN → SENSOR → DATA → INFORMATION → WARNING → EVACUATION.

Di Mana Peran Pemodelan Hidrodinamika CORZ?

Penting membedakan fungsi kedua teknologi.

InaCBT

dirancang untuk mendeteksi perubahan tekanan dasar laut dan sinyal yang relevan dengan kejadian tsunami.

Sedangkan:

HYDRODYNAMIC CURRENT MODELLING

menggambarkan bagaimana massa air bergerak dalam lingkungan tempat sistem tersebut dipasang.

Artinya, model arus CORZ bukan alat pendeteksi tsunami dan bukan pengganti tsunami-propagation model.

Perannya berada pada sisi oseanografi dan marine engineering support.

Secara konseptual:

BATHYMETRY + BOUNDARY CONDITIONS + OCEAN FORCING
↓
HYDRODYNAMIC MODEL
↓
CURRENT DIRECTION & VELOCITY
↓
SPATIAL–TEMPORAL CURRENT FIELD
↓

MARINE ENVIRONMENT INFORMATION FOR DEPLOYMENT SUPPORT

Model membantu membangun pemahaman mengenai lingkungan laut sebelum dan selama kegiatan pemasangan sistem bawah laut.

Mengapa Arus Penting untuk Instalasi Kabel Bawah Laut?

Kabel laut tidak dipasang pada gambar dua dimensi.

Ia harus melewati laut yang bergerak.

Selama pekerjaan deployment, kapal, kabel, dan peralatan bawah laut berinteraksi dengan arus.

Arus dapat menjadi salah satu informasi yang perlu dipertimbangkan bersama:

bathymetry • seabed morphology • water depth • weather • waves • vessel capability • cable properties • installation method.

Model hidrodinamika memberi salah satu layer penting:

CURRENT ENVIRONMENT.

Setiap vektor model membawa informasi:

DIRECTION × VELOCITY × LOCATION × TIME

Sehingga pemasangan infrastruktur bawah laut dapat dilihat bukan hanya melalui:

WHERE?

tetapi juga:

WHAT IS THE WATER DOING THERE?

Labuan Bajo — Menghubungkan Pantai dengan Laut Dalam

Studi pertama berfokus pada Labuan Bajo.

Kawasan ini memiliki konfigurasi pesisir dan laut yang kompleks, dari perairan pantai yang dipenuhi pulau-pulau hingga laut dalam di sebelah utara Flores.

Dalam pengembangan InaCBT, sistem akhirnya menggunakan kabel dari darat menuju sensor dasar laut jauh dari pantai.

BRIN pada Mei 2022 mengonfirmasi konfigurasi terpasang di Labuan Bajo berupa kabel sepanjang sekitar 54,7 km, mencapai kedalaman hingga sekitar 4.100 meter.

ANTARA — BRIN: InaCBT Labuan Bajo–Rokatenda memperkuat peringatan dini tsunami

Bayangkan transisinya:

COAST
↓
SHALLOW WATER
↓
CONTINENTAL / ISLAND SLOPE
↓
DEEP SEA
↓

OCEAN-BOTTOM SENSOR

Dalam lingkungan seperti ini, memahami kondisi laut sepanjang kawasan pemasangan merupakan bagian dari pembangunan marine situational awareness untuk kegiatan instalasi.

Rokatenda — Teknologi Modern di Kawasan dengan Sejarah Tsunami

Lokasi kedua adalah Rokatenda, gunung api yang berada di Pulau Palue, Kabupaten Sikka.

Pemilihan kawasan ini memiliki konteks kebencanaan yang kuat.

Pada Agustus 2021, BNPB melalui ANTARA mengingatkan kembali catatan sejarah letusan eksplosif Rokatenda pada 1928 yang disertai tsunami. BNPB mencatat bencana tersebut menewaskan ratusan orang, dengan sebagian besar korban berkaitan dengan tsunami.

ANTARA — BNPB: Letusan eksplosif Rokatenda pernah memicu tsunami

Konteks ini penting karena tsunami tidak selalu hanya dikaitkan dengan gempa tektonik besar.

Sumber bahaya di kawasan kepulauan vulkanik juga dapat melibatkan proses lain seperti aktivitas vulkanik atau longsoran bawah laut.

Karena itu, sistem observasi laut yang mampu memperoleh informasi langsung dari dasar laut mempunyai nilai strategis.

Pemodelan Rokatenda: Memahami Lingkungan Tempat Sistem Akan Bekerja

Pada Rokatenda, CORZ kembali memodelkan sirkulasi arus untuk mendukung kebutuhan pemasangan InaCBT.

Pendekatan modelnya tetap didasarkan pada pertanyaan dasar:

Bagaimana massa air bergerak di sekitar sistem?

Bagaimana distribusi kecepatan dan arah arus secara spasial?

Bagaimana kondisi tersebut berubah terhadap waktu?

Representasinya:

CURRENT FIELD t₁
→
CURRENT FIELD t₂
→
CURRENT FIELD t₃
→
CURRENT FIELD tₙ

memberikan gambaran lingkungan laut yang dinamis.

Ini berbeda dari sebuah peta batimetri statis.

Batimetri menjawab:

HOW DEEP?

Model arus menambahkan:

HOW DOES THE WATER MOVE?

2021 Membuktikan Mengapa Sistem Peringatan Dini Ini Relevan

Hanya beberapa minggu setelah ANTARA memberitakan rencana pemasangan InaCBT, Nusa Tenggara Timur mengalami kejadian nyata yang mengingatkan kembali tentang risiko tsunami.

Pada 14 Desember 2021 pukul 10.20 WIB, gempa M7,4 terjadi di Laut Flores, sekitar 112 km barat laut Larantuka.

BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk sejumlah wilayah di NTT dan kawasan sekitarnya. Setelah pemantauan, peringatan tersebut kemudian diakhiri.

ANTARA — BMKG mengakhiri peringatan dini tsunami akibat gempa M7,4 Laut Flores, 14 Desember 2021

detikNews melaporkan gempa tersebut dirasakan kuat di Labuan Bajo dan menyebabkan warga serta pegawai keluar dari bangunan.

detikNews — Gempa M7,4 dirasakan kuat di Labuan Bajo

BMKG kemudian menyatakan hasil pengamatan muka laut memang mendeteksi tsunami pascagempa tersebut, meskipun amplitudonya relatif kecil pada stasiun yang mencatatnya.

Peristiwa itu bukan hasil atau validasi model hidrodinamika CORZ.

Namun kejadian tersebut memberikan konteks yang sangat nyata tentang mengapa teknologi pendeteksi tsunami dan penguatan sistem observasi laut menjadi penting di kawasan Flores.

Dari Rencana Tahun 2021 Menjadi Sistem Terpasang

Pada November 2021, pemasangan masih diberitakan sebagai rencana akhir tahun.

Pada Mei 2022, BRIN mengonfirmasi bahwa InaCBT telah terpasang di Labuan Bajo dan Rokatenda.

Konfigurasi yang dilaporkan setelah pemasangan adalah:

LABUAN BAJO
kabel sekitar 54,7 km
kedalaman hingga sekitar 4.100 m

ROKATENDA
kabel sekitar 14,3 km
kedalaman hingga sekitar 1.400 m.

Teknologi tersebut bekerja dengan mendeteksi perubahan tekanan air di dasar laut dan mengirimkan data secara real time melalui kabel optik menuju stasiun darat, lalu diteruskan ke pusat data.

Dengan demikian, aktivitas tahun 2021 berada dalam rangkaian yang sangat konkret:

RESEARCH → MODELLING → MARINE INSTALLATION → OCEAN OBSERVATION.

Mengapa Kabel Lebih dari Sekadar Media Komunikasi?

Dalam sistem InaCBT, kabel mempunyai peran fundamental.

Sensor berada jauh di laut.

Data harus tiba di darat secepat mungkin.

Karena itu:

SENSOR WITHOUT COMMUNICATION

belum menjadi sistem peringatan dini yang efektif.

Kabel serat optik memungkinkan komunikasi berkecepatan tinggi antara sensor dasar laut dan daratan. ANTARA pada 2021 mencatat bahwa kecepatan pengiriman data menjadi salah satu alasan utama pengembangan teknologi berbasis kabel tersebut.

Konsepnya:

DEEP OCEAN SENSOR

↕

FIBER-OPTIC CABLE

LAND STATION

↕

DATA CENTRE.

Laut menjadi bagian dari jaringan sensor.

Sensor Mengukur. Model Memberikan Konteks.

Ini adalah salah satu pesan terpenting dari studi CORZ.

SENSOR

memberikan observasi pada lokasi tertentu.

MODEL

memberikan gambaran medan fisik di sekitarnya.

Keduanya memiliki fungsi berbeda tetapi saling melengkapi.

OBSERVATION
+
NUMERICAL MODELLING
↓

BETTER OCEAN UNDERSTANDING.

Untuk sistem peringatan dini, lapisan lainnya kemudian bergabung:

SEISMOLOGY + PRESSURE OBSERVATION + SEA-LEVEL MONITORING + MODELLING + TELECOMMUNICATION + WARNING DISSEMINATION

↓

TSUNAMI RISK REDUCTION.

Pemodelan Hidrodinamika Tidak Memprediksi Gempa

Batas ilmiah ini penting.

Model sirkulasi arus CORZ tidak memprediksi kapan gempa akan terjadi.

Model juga tidak dengan sendirinya menentukan apakah suatu gempa akan menghasilkan tsunami.

Fungsi studi adalah memberikan pemahaman terhadap lingkungan hidrodinamika tempat sistem InaCBT akan dipasang.

Sedangkan peringatan dini tsunami membutuhkan informasi dari berbagai komponen, termasuk analisis gempa, sensor tekanan dasar laut, tide gauge, model tsunami, serta sistem komunikasi dan diseminasi.

Dengan demikian:

HYDRODYNAMIC MODELLING ≠ EARTHQUAKE PREDICTION.

Tetapi:

HYDRODYNAMIC MODELLING = MARINE ENVIRONMENT KNOWLEDGE.

Dari Ocean Engineering menuju Disaster-Risk Reduction

Studi ini mempertemukan dua bidang yang sering terlihat terpisah.

OCEAN ENGINEERING

membutuhkan pemahaman mengenai lingkungan tempat kabel dan perangkat dipasang.

DISASTER-RISK REDUCTION

membutuhkan sistem pengamatan yang dapat bekerja secara cepat dan andal ketika kejadian berlangsung.

Pertemuannya:

UNDERSTAND THE SEA
↓
INSTALL THE SENSOR
↓
OBSERVE THE DEEP OCEAN
↓
TRANSMIT THE DATA
↓
SUPPORT EARLY WARNING
↓

PROTECT COASTAL COMMUNITIES.

Dari Model Arus menuju Infrastruktur Observasi Laut

Pemodelan seperti ini dapat memberikan dukungan informasi fisik bagi berbagai kegiatan kelautan:

  • Subsea Cable Installation Studies
    • Ocean-Bottom Instrument Deployment
    • Tsunami Observation Infrastructure
    • Marine Survey Planning
    • Offshore Installation Support
    • Hydrodynamic Current Assessment
    • Ocean Monitoring Systems
    • Disaster-Mitigation Infrastructure

Studi ini menunjukkan bahwa numerical modelling tidak hanya digunakan untuk memprediksi dampak.

Ia juga dapat mendukung pembangunan:

THE SYSTEMS THAT OBSERVE THE IMPACT.

Model the Ocean Before Installing the System That Watches It.

Sebuah sensor tsunami mungkin bekerja tanpa terlihat jauh di dasar laut.

Tetapi agar sensor itu dapat berada di sana, banyak ilmu dan rekayasa harus bekerja sebelumnya.

Kita harus memahami kedalaman.

Memahami medan dasar.

Memahami laut.

Menyediakan kabel.

Menempatkan sensor.

Menghubungkannya ke darat.

Dan memastikan informasi dapat mengalir ketika setiap detik menjadi penting.

Studi Labuan Bajo–Rokatenda 2021 merepresentasikan pendekatan Research & Studies CORZ Indonesia:

Understand the Currents.
Characterise the Marine Environment.
Support the Deployment.
Connect the Deep Sea to the Shore.
Observe the Ocean.
Strengthen Early Warning.
Protect What Matters.

Karena sebelum sebuah sistem dapat bertanya:

“Is a tsunami coming?”

kita terlebih dahulu harus menjawab:

“How do we place a reliable observing system in this ocean?”

CORZ Indonesia for Research & Studies

Hydrodynamic Modelling • Current Circulation • Subsea Cable & Instrument Deployment Support • Ocean Observation Systems • Tsunami Monitoring Infrastructure • Marine Engineering Studies

Coastal-Ocean Research Zone (CORZ) Indonesia provides research, modelling, analysis, and technical solutions for coastal and ocean environments.

YouTube: https://www.youtube.com/@CORZIndonesia
Website: https://corz.co.id
Email: info@corz.co.id

© 2026 CORZ Indonesia. All Rights Reserved.

VIDEO

Tonton dari CORZ

Nilai bagi Pengambil Keputusan

Punya kebutuhan proyek pesisir atau laut?

Sampaikan lokasi, tujuan, tantangan utama, ketersediaan data, dan keluaran yang diharapkan. Tim CORZ akan membantu menyusun pendekatan teknis yang proporsional.

Kirim Ringkasan Proyek